Monday, March 4, 2013

Review: The Fault in Our Star

Judul: Salahkan Bintang-Bintang
Pengarang: John Green
Penerbit: Qanita
Tebal: 422 halaman

Mengidap kanker pada umur 16 tahun pastilah terasa sebagai nasib sial, seolah bintang-bintang serta takdirlah yang patut disalahkan. Itulah yang dialami oleh Hazel Grace. Sudah begitu, ibunya terus memaksanya bergabung dengan kelompok penyemangat penderita kanker. Padahal, Hazel malas sekali.

Tapi, kelompok itu toh tak buruk-buruk amat. Di sana ada pasien bernama Augustus Waters. Cowok cakep, pintar, yang naksir Hazel dan menawarinya pergi ke Amsterdam untuk bertemu penulis pujaannya. Bersama Augustus, Hazel mendapatkan pengalaman yang sangat menarik dan tak terlupakan.

Tetap saja, rasa nyeri selalu menuntut untuk dirasakan, seperti halnya kepedihan. Bisakah Augustus dan Hazel tetap optimistis menghadapi penyakit mereka, meskipun waktu yang mereka miliki semakin sedikit setiap harinya?



Dear Hazel Grace,

Kau hebat,menganggumkan,luar biasa,dan... ya tidak ada lagi yang bisa kukatakan selain kau,dengan kanker tiroid dan paru-paru-mu yang payah itu sangat menginspirasiku,atau ribuan orang diluar sana.
Kau menarik,kau lucu dengan cara mu sendiri yang bahkan tidak kau ketahui. Kau sangat menghargai hidupmu,seolah setiap detik ada hari akhirmu,well..hal yang wajar apabila kau punya penyakit seperti kanker itu.

I even tried to tell myself to live my best life today.

Kau dan Augustus Waters adalah pasangan terindah yang pernah aku baca. Jadi tidak adil kalau Tuhan melewatkanmu dari daftar orang yang terselamatkan. Aku suka bagaimana kalian bersama,bahkan ketika kalian melakukan itu , aku tidak menganggap kau dan Gus adalah remaja yang..(well,kau tau apa maksudku.). Bagiku itu adalah keistimewaan kanker, ya salah satu selain mendapat baju yang ditanda tangani idolamu,berjumpa dengan idolamu dan hal lainya.

Dan Augustus,walaupun kau hanya memiliki satu kaki,Aku tahu Hazel benar mengenai dirimu,betapa tampan dan seksinya dirimu. Dan kau adalah sosok yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. (Jadi baca saja bukunya dan nilai ia sendiri). Dan aku akan bahagia bila punya pacar yang membawa ku ke Amsterdam seperti yang dilakukan Augus *tabok*


that's how I imagining Gus and Hazel in Amsterdam

Aku mencintai kalian,Hazel dan Augustus. Aku berharap memiliki sahabat seperti kalian. 2 orang saja cukup.
Walaupun pada akhirnya, kenyataan selalu berbeda dengan apa yang kita harapkan.

Good friends are hard to find and impossible to forget.
It seemed like forever ago, like we'd had this brief but still infinite forever. Some infinities are bigger than other infinities. 
You gave me forever within the numbered days, and I'm grateful.

Sesugguhnya aku menyesal membaca buku ini disekolah,aku menyesal tidak sabar dan menunggu membacanya dirumah,aku kesal harus menahan air mata,aku juga (sedikit) menyesal membeli dalam bahasa Indonesia,kurang greget (okay).


The fault, dear Brutus, is not in our stars, But in ourselves, that we are underlings.

P.S unntuk John Green :
Kau hebat,dan aku sungguh ingin tahu apa yang terjadi setelah novel ini berakhir,apa yang terjadi dengan Hazel?Isaac?Mom dan Dan Hazel?Kaithlyn?. TFIoS bukan novel tentang kanker pertama yang kubaca,well sesungguhnya itu yang pertama,karena My Sister Keeper aku tonton,bukan baca.
Tapi membaca buku dan menonton film adalah hal yang (cukup) jauh berbeda,membaca seolah kau merasa kau didalamnya,seolah aku adalah Hazel,dengan kanula dan philip-ku. Seolah aku memiliki pacar yang (bisa dibilang) romantis seperti Gus.
Undang aku kerumah-mu? :)




note: I preferred the quotes written in English instead of Bahasa,just sounds better. And I know I suppose to write a review,but I decided to wrote it in a letter-ways.

No comments:

Post a Comment